SENI RUPA KONTEMPORER

Seni Rupa Modern

          Pecahnya revolusi Perancis 1789, merupakan salah satu tanda kebangkitan seni rupa modern, yang kemudian diikuti dengan munculnya pelukis dari Perancis yang bernama J.L. David. Tidak hanya J.L. David, tetapi pelukis seperti Vincent Van Gogh dan Leonardo Da Vinci juga seniman yang menjadi tanda kebangkitan era seni rupa modern.

Seni Rupa Modern Eropa dan Amerika adalah pelopor lahirnya seni modern. Hal ini ditegaskan oleh Rosenberf, dalam Dharsono (2004:222) bahwa:

Pengertian “modern” dalam terminologi seni rupa tidak bisa dilepaskan dari prinsip modernisme atau paham yang mendasari perkembangan seni rupa modern dunia sampai pertengahan abad ke-20. Seni rupa modern dunia memiliki nilai-nilai yang bersifat universal. Dari penafsiran seorang pelukis Jerman yang pindah ke Amerika Serikat sesudah Perang Dunia ke II, Hans Hofmann menyatakan hanya seniman dan gerakan di Eropa dan Amerika yang mampu melahirkan seni rupa modern, konsepsi poros Paris-New-York sebagai pusat perkembangan seni rupa modern.

Seni modern lahir dari dorongan untuk menjaga standar nilai estetik yang kini sedang terancam oleh metode permasalahan seni. Modernisme meyakini gagasan progres karena selalu mementingkan norma kebaruan, keaslian dan kreativitas. Prinsip tersebut melahirkan apa yang kita sebut dengan “Tradition of the new” atau tradisi “Avant-garde”, pola lahirnya gaya seni baru  pada awalnya ditolak, namun akhirnya diterima masyarakat sebagai inovasi terbaru.

Seni modern dengan melahirkan Conceptual Art/ Seni Konseptual merupakan gerakan dalam  menempatkan ide, gagasan atau konsep sebagai masalah yang utama dalam seni. Sedangkan bentuk, material dan objek seninya hanyalah merupakan akibat/efek samping dari konsep seniman.

Walapun kita sering menggunakan istilah seni rupa modern prinsip modernisme tak pernah sungguh-sungguh berakar. Polemik kebudayan di tahun 30-an sangat mempengaruhi pemikiran perkembangan seni rupa Indonesia. Hal ini dipertegas oleh Jim Supangkat 1992 sebagai berikut:

Persentuhan seni rupa Indonesia dengan seni rupa modern sebenarnya hanya terbatas pada corak, gaya, dan prinsip estetik tertentu. Nasionalisme sebagai sikap dasar persepsi untuk menyusun sejarah perkembangan sejarah seni rupa Indonesia adalah kenyataan yang tak bisa disangkal dan nasionalisme sangat mewarnai pemikiran kesenian dihampir semua negara berkembang. Batas kenegaraan itulah yang mengacu pada nasionalisme yang akhirnya diakui dalam seni rupa kontemporer yang percaya pada pluralisme sejak zaman PERSAGI tidak pernah ragu menggariskan perkembangan seni rupa Indonesia khas Indonesia (Jim Supangkat dalam Dharsono, 2004: 224).

Kendati seni rupa modern percaya pada eksplorasi dan kebebasan secara implisit akhirnya hanyalah mempertahankan prinsip-prinsip seni rupa Barat (tradisi Barat). Prinsip-prinsip modernisasi juga menetapkan  tahap perkembangan yang didasarkan pada perkembangan seni rupa  modern Eropa Barat dan Amerika (lihat sejarah). Di Indonesia prinsip-prinsip seperti itu tidak seluruhnya teradaptasi, akan tetapi muncul secara terpotong-potong kadang dalam bentuk yang lebih ekstrim.

Catatan perkembangan pelukis Belanda yang diabaikan adalah catatan yang justru secara mendasar memperlihatkan tanda-tanda perkembangan seni rupa modern.  Kendati tidak terlalu nyata pergeseran yang terjadi pada tahun 1940-an ini menandakan seniman mulai mempersoalkan bahasa rupa dan cenderung meninggalkan representasi (menampilkan realitas sebagai fenomena rupa). Pada tahun 50-an kecenderungan mempersoalkan bahasa rupa itu menegaskan pada karya pelukis Ries Mulder yang waktu itu tinggal di Bandung. Ketika Ries Mulder merintis pendidikan seni rupa di Bandung (ITB), perkembangan seni rupa di alur ini memasuki era penjelajahan masalah bentuk rupa yang secara sadar meninggalkan representasi. Ries Mulder memperkenalkan konsep-konsep seni lukis kubisme yang kemudian sangat berpengaruh di kalangan pelukis pribumi yang belajar padanya. Di tempat lain, ruang seni rupa di Jogjakarta pada saat itu dipenuhi dengan karya-karya realistis. Dari kenyataan inilah maka lahir kubu Bandung yang disebut sebagai laboratorium Barat. Hal ini dipertegas oleh A.D. Pirous bahwa:

…perguruan tinggi dibentuk dengan gaya, konsep dan teori kesenian Barat modern diajarkan pada mahasiswa, proses itu berjalan sedemikian sehingga pada tahun 50 dan 60-an , karya-karya mahasiswa seni rupa Bandung pernah dicap sebagai hasil laboratorium Barat (A.D. Pirous, 2003:56)

Akibat dari perkembangan ini, kemudian menjadi kontradiksi kubu Bandung-Jogja yang  memperlihatkan pertentangan dua tradisi besar seni rupa modern, yaitu kontradiksi tradisi realis dan modernis.

 

Seni Rupa di Indonesia

Kolonialisme Eropa terutama yang dilakukan oleh dua negara yakni Spanyol dan Portugis, telah memberikan dampak besar pada perkembangan budaya Timur (Indonesia). Portugis adalah negara Eropa pertama yang melakukan perjalanan mengarungi samudera sebelah selatan menuju Afrika, melewati selatan dari Timur Asia pada abad ke-15. Kemudian pada akhir abad ke-16 Inggris dan Belanda menyaingi monopoli Portugis dalam perdagangan di daerah Timur. Belanda kemudian menjajah Hindia Belanda sebagai negara koloni penghasil teh, kapas, emas dan sumber daya alam lainnya terutama Indonesia hingga jatuhnya kekuasaan Belanda ke tangan Jepang tahun 1942. Tentu hal ini sangat berpengaruh pada semua tatanan yang ada di Indonesia baik segi politik maupun kebudayaan yang imbasnya sampai pada perjalanan seni rupa.

…Perjalanan seni lukis kita sejak perintisan  R. Saleh sampai awal abad 21,  terasa masih terombang-ambing oleh berbagai benturan  konsepsi. Kemapanan seni lukis Indonesia yang belum mencapai tataran berhasil itu,  sudah diporak-porandakan oleh gagasan modernisme  yang membuahkan seni alternatif  dengan munculnya seni konsep (conceptual art) seni instalasi, dan “Performance Art”, yang pernah menjamur di kampus perguruan tinggi seni sekitar 1993-1996. Kemudian muncul berbagai alternatif  semacam “kolaborasi” sebagai mode 1996/1997….  (Dharsono, 2004: 194).

Sejarah  mencatat, perkembangan seni rupa Indonesia pada tiap zamannya banyak dipengaruhi oleh kolonialisme terutama pada perkembangan seni rupa modern Indonesia yang selalu terkait dengan perubahan sosial dan juga memuat konteks-konteks sosial, ekonomi maupun kebudayaan. Hal ini terbukti dengan munculnya seorang seniman pertama kaum pribumi (terjajah) bernama R. Saleh Syarif Bustaman (1807-1880) yang dinyatakan sebagai perintis, karena telah menanamkan tonggak pertama perjalanan seni lukis Indonesia (Sudarmaji dalam Dharsono, 2004:140).

Dengan mendapatkan pendidikan gambar dari pelukis Belgia, R. Saleh dikirim ke negeri Belanda untuk belajar melukis dengan dibiayai pemerintah Belanda pada tahun 1829, dari hasil pendidikan tersebut R. Saleh melahirkan dua karyanya yang sangat terkenal sampai saat ini yaitu “Antara Hidup dan Mati” dan “Hutan Terbakar” serta beberapa potret keluarga raja-raja Jawa dan pejabat pemerintahan Belanda.

Kasus lain yang hampir serupa terjadi setelah meninggalnya R. Saleh (1880). Munculnya tokoh pelukis yang mengenyam pendidikan dari Belanda yaitu Abdullah Suryosubroto (1900-an). Ia pada awalnya dikirim ke negeri Belanda oleh Wahidin Sudirohusodo untuk menuntut ilmu kedokteran namun tanpa sepengetahuan ayahnya ia malah belajar pada akademi seni rupa. Ia kemudian pulang ke Indonesia menjadi pelukis besar dan menetap di Bandung.  Sejak wafatnya R. Saleh (1880) sampai pada munculnya Abdulah Suryosubroto (1900-an) konteks dunia seni rupa Indonesia seperti mengalami “rantai terputus”.

Mooi Indie” (seni lukis pemandangan) merupakan masa awal perkembangan seni rupa Indonesia setelah wafatnya R. Saleh. Tumbuhnya Mooi Indie merupakan pengaruh pengusaha dan para pedagang masa kolonialisme tahun 1930-1938. Melihat keadaan alam di Indonesia yang indah dan permai menyebabkan para pengusaha pada waktu itu sangat menyukai objek-objek keindahan alam, sehingga lahir pelukis-pelukis pemandangan, diantaranya Abdullah Suryosubroto, Pringadi dan Wakidi. Hal ini ditegaskan oleh Sanento Yuliman sebagai berikut:

…pada awal abad dua puluh terbentuklah konsumen lukisan pemandangan  alam di Indonesia, yaitu saudagar, pengusaha, pegawai Belanda dan para wisatawan…semua menginginkan kenang-kenangan alam Indonesia…karena kebanyakan pelukis pada masa itu memang senang melukis pemandangan alam. Kesenangan itu…beserta hasil penjualan…bagi pelukis merupakan imbalan yang cukup…Pelukis Abdullah Suryosubroto, Pringadi dan Wakidi meluangkan banyak waktu…pergi ke tempat sepi di lereng gunung Tangkuban Parahu, kaki Merapi, pantai Pelabuhan Ratu dan di Ngarai Sianok merenungi pemandangan alam dan dengan tekun melukisnya (Sanento Yuliman, 2001:80).

Mooi Indie memiliki karakter dan teknik pewarnaan yang berbeda dengan masa R. Saleh.   Pewarnaan karya seniman Mooi Indie lebih menyala baik pada objek alam, binatang maupun manusia. Tokoh-tokoh masa Mooi Indie selain Abdullah Suryosubroto, Wakidi dan Pringadi yaitu Basuki Abdullah dan pelukis lainnya. Mereka melukis pemandangan dengan teknik yang biasa dilakukan dan diajarkan di akademi seni rupa negeri Belanda berdasarkan ketentuan lazim, yaitu  memperhitungkan perspektif/ruang dan teknik pewarnaan yang ditonjolkan.

Dengan aturan-aturan seperti di atas Sudjojono (salah satu murid Pringadi) merasa tidak punya kebebasan, sebab menurutnya melukis harus terbebas dari kaidah-kaidah agar gejolak jiwa bisa tercurahkan sebebas-bebasnya. …lukisan tidak diukur dari kecepatan dalam melukiskan objek tetapi bagaimana menuangkan intensitas kegemasan garis-garis yang disapukan pada kanvas, ujar Sudjojono (Sanento Yuliman, 2001:82).

Sudjojono tetap konsisten pada keyakinannya hingga tahun 1937 ia berhasil mengikuti pameran bersama orang-orang Eropa. Pada tahun 1938 ia menjadi tokoh dan penggerak Persatuan Ahli Gambar Indonesia (PERSAGI) yang diketuai oleh Agus Djaya. Perkumpulan ini dirintis sebagai kesatuan pelukis-pelukis untuk melahirkan lukisan corak Indonesia dengan konsep “melukis tidak semata-mata berbekal keterampilan teknis, tetapi memerlukan pandangan hidup dan visi seni yang luas dan mendalam”. Namun akhirnya PERSAGI bubar ketika kekuasaan Belanda jatuh ke tangan Jepang Pada bulan Maret 1942.

Jatuhnya kekuasaan Belanda ke tangan Jepang bukan hanya suatu kemenangan militer saja, tetapi bangsa Indonesia lebih melihat peristiwa ini sebagai kemenangan kepercayaan akan harga diri bangsa Asia terhadap bangsa Barat. Ini dipaparkan oleh A.D. Pirous bahwa:

Kedatangan Jepang ke Indonesia pada waktu itu dirasakan sebagai “saudara tua” yang melepaskan kekuasaan penjajahan Belanda yang diterima dengan semangat persaudaraan yang erat. Jepang yang juga unggul dalam kebudayaan, diharapkan dapat membantu mengembangkan kebudayaan Indonesia, harapan ini jadi lebih diyakini, ketika pemerintah Jepang menampakan perhatiannya yang besar terhadap persoalan-persoalan kebudayaan (AD. Pirous 2003:3).

Pada masa pendudukan Jepang seni rupa Indonesia mendapatkan perhatian yaitu dengan disediakannya alat-alat dan tempat untuk melukis sehingga terselenggara pameran lukisan pertama pada bulan September 1942. Tapi sayangnya karya-karya yang dibuat hanya sebagai propaganda pemerintahan Jepang yaitu dengan bertemakan kehebatan pemerintahan Jepang.

Puncak campur tangan pemerintahan Jepang dapat dicatat pada bulan April tahun 1943 atau setahun setelah masa pendudukan. Jepang membentuk suatu badan kebudayaan yang diberi nama “Keimin Bunka Sidosho” dengan kontrol di bawah seniman Jepang yaitu Saseo Ono, di dalamnya tetap terdapat propaganda pemerintahan Jepang. Akan tetapi oleh para seniman lokal “Keimin Bunka Sidosho” dimanfaatkannya sebagai kesempatan untuk berlatih secara teratur dengan literatur dan peralatan yang ada, mereka mengadakan ceramah/diskusi tentang seni rupa dengan sedikitnya memberikan pandangan-pandangan baru tentang perkembangan kesenian (seni rupa) Indonesia. Di pihak lain Indonesia mendirikan “Poetra” yang dalam bagian seni rupanya dipimpin oleh S. Sujoyono dan Affandi.

Selain mengabdi pada bidang seni, seniman-seniman lokal berjuang melawan pemerintahan Jepang lewat lukisan dan poster, dengan jiwa nasionalisme pada saat itu sebagai contoh lukisan Affandi menyindir pekerja romusha dengan badan kurus dan pakaian compang-camping, demikian juga poster dengan model pelukis Dullah, teks oleh Khairil Anwar “Boeng Ajo Boeng” direproduksi dan disebar lewat gerbong-gerbong kereta api.

 

Perkembangan Seni Rupa Modern

          Seni rupa modern adalah seni rupa yang tidak terbatas pada kebudayaan suatu adat atau daerah, namun tetap berdasarkan sebuah filosofi dan aliran-aliran seni rupa.

Seni modern tidak ditentukan oleh kronologis waktu penciptaannya, melainkan ditentukan oleh sifat-sifat tertentu dalam karya seni tersebut. Salah satu sifat yang merupakan ciri khas dari seni modern ialah kreativitas yang kemudian berkembang kepribadian didalamnya antara lain originitas, kepribadian dan kesegaran.

Seni rupa modern di Indonesia dimulai sejak Raden Saleh Syarif Bustaman menampilkan karya-karya dengan teknik dan pengecatan cara Barat. Kesadaran harga diri, individualitas, dan kesadaran arti pentingnya kreativitas, inovatif, dan kegiatan berkala melakukan pameran merupakan ciri seni rupa modern Indonesia. Proses berkembangnya seni rupa modern Indonesia secara kronologis dapat kita bagi dalam beberapa periode.

Seni rupa modern di Indonesia perkembangannya lebih banyak didominai seni lukis. Seni rupa lainnya, misalnya seni patung juga berkembang namun para pematungnya lebih banyak mengerjakan seni lukis. Begitu pula seni rupa yang lain, seperti seni kriya dan desain.

 

 

  • Perintisan Pertama

Seni lukis modern pada perintisan pertama, muncul sekitar tahun 1800-an. Seni lukis pada masa itu tepatnya kita kaji pada lukisan karya-karya Raden Saleh Syarif Bustaman. Ia pelukis pertama di Indonesia yang melukis dengan tanpa ikatan oleh sesuatu seperti kepercayaan, agama, atau patron-patron tertentu. Sehingga yang menjadi ciri khas seni lukis modern tersebut ialah pengolahan visualisasi karya dengan mengutamakan daya kreativitas senimannya. Raden Saleh yang dilahirkan di daerah Semarang tahun 1807, dalam seni lukisnya ia mendapat bimbingan teknik melukis ala modern (Barat) tepatnya dididik oleh pelukis keturunan Belgia yang menetap di Indonesia, yakni A.A.J. Payen. Setelah itu, ia lebih banyak tinggal di daratan Eropa antara lain Belanda, Austria, Jerman, dan Perancis. Di negara tersebut ia lebih dikenal sebagai pelukis potret. Baru tahun 1851 ia kembali ke Indonesia hingga akhir hayatnya, tepatnya 23 April 1880. Beberapa karyanya antara lain Antara Hidup dan Mati, Kebakaran di Hutan dan Perburuan Kijang, Banjir, Harimau dan Mangsanya, Berburu di Pulau Jawa, Jalan di Desa, Berburu Banteng, dan Penangkapan Pangeran Diponegoro. Corak lukisannya ialah romantisme yang banyak mengungkapkan gejolak dramatisasi.

  • Perintisan Kedua

Seni lukis modern Indonesia pada perintisan kedua ialah setelah beberapa tahun Indonesia mengalami kevakuman semenjak Raden Saleh meninggal. Nampaknya Raden Saleh tidak begitu mempersiapkan penerusnya. Perintisan yang kedua ini didukung oleh sekelompok pelukis yang disebut “Mooi Indie” atau Indonesia Jelita antara lain : Abdullah Surio Subroto (1878-1941), anak dr. Wahidin Sudirohusodo, bersama ketiga anaknya, yakni Sujono Abdullah (1911), Basuki Abdullah (1915-1994), dan Trijoto Abdullah (1916). Pelukis lainnya ialah Pringadi (1875-1936), Henk Ngantung (1921), Lee Man Fong, Ui Tiang Bun, Biauw Tik Wi, Suyono, Wakidi, dan Suharyo. Pada masa Indonesia Jelita, banyak para pelukis asing yang tinggal di Indonesia. Para pelukiis itu antara lain Jan Frank,Rudolf Bonnet, Ernest Dezentce, dan Hofker.

Lukisan-lukisan pada masa Indonesia Jelita itu umumnya tentang keindahan, kemolekan atau hal-hal yang serba bagus, molek dan romantis bagaikan di surga. Tujuan penciptaannya tidak bisa di pungkiri, yakni sabagai souvenir bagi turis turis asing yang berkunjung ke Indonesia. Dengan demikian, uanglah yang didambakan bagi para pelukis pada saat itu.

  • Perintisan Ketiga

Seni lukis modern Indonesia pada peritisan ketiga ialah periode pembaharuan dasar. Pada periode ini ide dan tema seni lukis Indonesia mengaruh kepada citra rasionalisme dan kemerdekaan Indonesia. Sebagai perwujudan cita-cita ini dibentuklah ‘Persagi’ (Persatuan Ahli-ahli Gambar Indonesia). Persagi lahir pada tahun 1938. Latar belakang lahirnya persagi antara lain latar belakang politik, pendidikan dan kesenian. Beberapa seniman yang menjadi pendukung Persagi antara lain Agus Jaya Suminta (Ketua), S. Sunjoyono (Juru Bicara), Abdullah Salam, Emeria Sunassa, S. Tutur, Sukino, Sarono, Suromo, dan Otto Jaya Suntara sebagai anggota. Tujuan didirikan Persagi adalah mengembangkan seni lukis di kalangan bangsa Indonesia dengan mencari corak Indonesia baru. Beberapa karya dari Persagi antara lain “Sayang Saya Bukan Anjing” karya S. Sunjono. Lukisan ini merupakan sindiran tajam terhadap kolonial, sedangkan Abdul Salam lebih banyak membuat gambar ilustrasi dan grafika untuk sebuah penerbitan, misalnya buku-buku untuk sekolah, ilustrasi pada uang, dan sebagainya.

  • Perintisan Keempat

Seni lukis modern pada perintisan keempat, yaitu periode seni lukis pada zaman pendudukan Jepang. Meskipun periode ini sangat singkat tetapi semangat nasionalisme justru lebih menggelora. Berbeda dengan pendudukan kolonial Belanda sebelumnya, pada periode ini Jepang memberikan perhatian terhadap perkembangan kesenian khususnya seni lukis. Bukti perhatian itu ialah dibentuklah Keimin Bunka Sidhoso (sebuah lembaga kesenain yang dibentuk oleh pemerintah Jepang) yang menampung kegiatan seni lukis Indonesia pada saat itu. Para pelukisnya antara lain Agus Jaya Suminta, Otto Jaya, Subanto, Trubus S, dan dari kalangan Jepang terdapat nama-nama Saseo Ono (seorang karikaturnis), Kanho (ahli desain dan poster modern) dan Yoshioka (pelukis impresionis). Selain Keimin Bunka Sidhoso, dibentuklah lembaga kesenian lainnya oleh Ir. Soekarno, Hatta, Dewantara, dan Mansyur, yakni “Putera” (Pusat Tenaga Rakyat). Dalam lembaga ini, S. Sunjoyono dan affandi diserahi tugas sebagai penanggung jawab bidang keskesenirupaan. Para pelukis lain dalam Putera ini adalah Basuki Abdullah, Dullah, Kartono Yudokusumo, Emeria Sunassa, dan Basuki Abdullah.

  • Perintisan Kelima

Seni lukis modern Indonesia pada perintisan kelima adalah periode tahun-tahun revolusi fisik. Setelah Indonesia merdeka ternyata pihak Sekutu masih ingin menguasai lagi. Untuk mengatasi hal tersebut maka pemerintahan dipindahkan dari Jakarta ke Yogyakarta. Bersamaan pindahnya pemerintahan itu ikut berpindah pula para senimannya. Tahun 1946 dibentuklah “Seniman Masyarakat” dipimpin oleh Affandi tetapi tak lama kemudian berganti nama menjadi SIM (Seniman Indonesia Muda) yang dipimpin oleh S. Sunjoyono dan anggotanya antara lain Haryadi, Surono, Rusli, Affandi, Hendra, Sudarso, Dullah, dan sebagainya. Kegiatan SIM antara lain melukis dan pameran bersama, dan menerbitkan majalah seni rupa yakni “Potret Kulit”. Disamping SIM, Affandi dan Hendra membentuk PR (Pelukis Rakyat) pada tahun 1947 yang anggotanya sebagian pindahan dari anggota SIM ditambah anggota baru seperti: Rustamaji, Kusnadi, S. Kenton, Sumitro, Saptoto, dan sebagainya.

  • Perkumpulan Lain

Perkumpulan lain sejak tahun 1945 adalah PTPI (Pusat Tenaga Pelukis Indonesia) yang dipimpin oleh Jayeng Asmoro yang kegiatannya ialah menyelenggarakan kursus menggambar dan pembuatan poster. RJ. Katamsi mendirikan Sekolah Menengah Guru Gambar di Yogyakarta. Bersamaan itu pula muncul beberapa perkumpulan di kota-kota besar di Indonesia, misalnya di Medan, Malang, Surakarta, Bukit Tinggi, Surabaya, Madiun, dan sebagainya. Gaya seni lukis pada periode ini ialah realisme, impresionisme, ekspresionisme, dan dekoratif.

Meskipun ada usaha mendirikan lembaga pendidikan di bidang seni lukis, hal itu telah terlihat pada tahun 1947 di Bandung berdiri Balai Perguruan Tinggi Guru Gambar yang dipimpin oleh orang-orang Belanda, kemudian tahun 1951 oleh Sjafei Sumardja menjadi Fakultas Teknik Universitas Indonesia. Akhirnya tahun 1959 menjadi Departemen Seni Rupa ITB hingga sekarang. Lembaga pendidikan lainnya berdiri tahun 1950, yakni Akademi Seni Rupa Indonesia (ASRI) di Yogyakarta yang didirikan oleh R.J. Katamsi. Pada tahun 1968 lembaga ini mendapat status menjadi Sekolah Tinggi Seni Rupa Indonesia ASRI (STSRI “ASRI”) yang kini menjadi Fakultas Seni Rupa dan Desain Institut Seni Indonesia.

Dari kedua lembaga pendidikan inilah muncul beberapa seniman seni rupa yang mempunyai teknik-teknik berkarya secara subjektif, artinya kecenderungan kepada abstrak yang lebih menonjol. Dari kecenderungan inilah lahir pelukis-pelukis abstak di Indonesia, misalnya di Bandung ada nama-nama seperti Achmad Sadali, Moechtar Apin, Srihadi, Popo Iskandar, But Muchtar, dan Yusuf Effendi. Di jakarta terdapat nama Oesman Effendi, di Yogyakarta G. Sidharta, Fadjar Sidik, Handrijo, dan Abas Alibasyah. Begitulah tentang perkembangan seni rupa (seni lukis) di Indonesia. Pada perkembangan seni rupa di Indonesia pada periode 1974-1979, yakni munculnya kelompok seniman muda yang menamakan dirinya Gebrakan Seni Rupa Baru. Berbeda dengan pendapat S. Sujoyono, seni baginya adalah Jiwa Ketok (jiwa nampak). Gebraka Seni Rupa Baru berpendapat bahwa seni rupa haruslah menyuarakan lingkungan dan masyarakat. Karya-karya dari kelompok ini cenderung pada karya-karya eksperimental. Beberapa nama yang perlu dicatat dari gerakan ini antara lain Bonyong Munni Ardhie, Hardi, Ris Purwana, Siti Adiyati, dan Jim Supangkat.

Dari karya-karya yang dipamerkan, Bambang Sujono, kritikus kita memberikan catatan bahwa seni rupa baru telah mengembalikan semangat bermain seorang seniman. Naluri untuk berguru dalam sebuah penciptaan sanggup menyalurkan suasana renyah dan segar dalam karya cerita.

 

Ciri-ciri dan Unsur Modernisme

 

1.    Ciri-ciri seni modern (Desain dan Seni Rupa)                       

  • Minimalis
  • Rasionalitas/Rationality
  • Dominant bentuk-bentuk geometris
  • Tidak ada unsur ornament
  • Univeesal
  • Fungsionalitas diprioritaskan
  • Orisinalitas/kemurnian/purity
  • Penguatan dalam konsep
  • Kreativitas
  • Memutus hubungan dengan sejarah

 

2.    Unsur-unsur Modernisme

  • Eksperimen
  • Pembaruan (Inovation)
  • Kebaruan (Novelty)
  • Orisinalitas

3.    Fungsi dan Tujuan Seni Modern

 

  1. Memberi warna baru terhadap kebutuhan manusia baik secara fisik maupun psikis. Fisik, yakni munculnya bentuk bentuk desain arsitektur yang baru dan desain-desain lainnya seperti alat-alat transportasi, fashion, dll. Psikis, yakni mengurangi kejenuhan penikmat karya seni, karena muncul berbagai aliran baru seperti pada seni lukis dan cabang seni lainnya.
  2. Meningkatkan popularitas para seniman, karena seni modern selalu menyertakan nama senimannya pada setiap karya yang diciptakan.
  3. Memberikan kemudahan masyarakat, karena banyak penemuan-penemuan baru dari hasil eksperimen para seniman modern.

 

 

 

Beberapa Seniman Seni Rupa Modern

 

RADEN SALEH SYARIF BUSTAMAN         

 

Tokoh romantisme Delacroix dinilai memengaruhi karya-karya Raden Saleh yang jelas menampilkan keyakinan romantismenya. Saat romantisme berkembang di Eropa di awal abad 19, Raden Saleh tinggal dan berkarya di Perancis (18441851).

Ciri romantisme muncul dalam lukisan-lukisan Raden Saleh yang mengandung paradoks. Gambaran keagungan sekaligus kekejaman, cerminan harapan (religiusitas) sekaligus ketidakpastian takdir (dalam realitas). Ekspresi yang dirintis pelukis Perancis Gerricault (1791-1824) dan Delacroix ini diungkapkan dalam suasana dramatis yang mencekam, lukisan kecoklatan yang membuang warna abu-abu, dan ketegangan kritis antara hidup dan mati.

Lukisan-lukisannya yang dengan jelas menampilkan ekspresi ini adalah bukti Raden Saleh seorang romantisis. Konon, melalui karyanya ia menyindir nafsu manusia yang terus mengusik makhluk lain. Misalnya dengan berburu singa, rusa, banteng, dll. Raden Saleh terkesan tak hanya menyerap pendidikan Barat tetapi juga mencernanya untuk menyikapi realitas di hadapannya. Kesan kuat lainnya adalah Raden Saleh percaya pada idealisme kebebasan dan kemerdekaan, maka ia menentang penindasan.

Wajar bila muncul pendapat, meski menjadi pelukis kerajaan Belanda, ia tak sungkan mengkritik politik represif pemerintah Hindia Belanda. Ini diwujudkannya dalam lukisan Penangkapan Pangeran Diponegoro.

 

 

Lukisan “Penyerahan Diri Diponegoro” karya pelukis Belanda Nicolaas Pieneman.
Meski serupa dengan karya Nicolaas Pieneman, ia memberi interpretasi yang berbeda. Lukisan Pieneman menekankan peristiwa menyerahnya Pangeran Diponegoro yang berdiri dengan wajah letih dan dua tangan terbentang. Hamparan senjata berupa sekumpulan tombak adalah tanda kalah perang. Di latar belakang Jenderal de Kock berdiri berkacak pinggang menunjuk kereta tahanan seolah memerintahkan penahanan Diponegoro.

Berbeda dengan versi Raden Saleh, di lukisan yang selesai dibuat tahun 1857 itu pengikutnya tak membawa senjata. Keris di pinggang, ciri khas Diponegoro, pun tak ada. Ini menunjukkan, peristiwa itu terjadi di bulan Ramadhan. Maknanya, Pangeran dan pengikutnya datang dengan niat baik. Namun, perundingan gagal. Diponegoro ditangkap dengan mudah, karena Jenderal de Kock tahu musuhnya tak siap berperang di bulan Ramadhan. Di lukisan itu Pangeran Diponegoro tetap digambarkan berdiri dalam pose siaga yang tegang. Wajahnya yang bergaris keras tampak menahan marah, tangan kirinya yang mengepal menggenggam tasbih.

 

Lukisan “Penangkapan Diponegoro” karya Raden Saleh

Lukisan tentang peristiwa penangkapan Pangeran Diponegoro oleh Jendral De Cock pada tahun 1830 yang terjadi di rumah kediaman Residen Magelang. Dalam lukisan itu tampak Raden Saleh menggambarkan dirinya sendiri dengan sikap menghormat menyaksikan suasana tragis tersebut bersama-sama pengikut Pangeran Diponegoro yang lain. Jendral De Kock pun kelihatan sangat segan dan menghormat mengantarkan Pangeran Diponegoro menuju kereta yang akan membawa beliau ke tempat pembuangan.

Pada saat penangkapan itu, beliau berada di Belanda. Setelah puluhan tahun kemudian kembali ke Indonesia dan mencari informasi mengenai peristiwa tersebut dari kerabat Pangeran Diponegoro. Dari usaha dan karya tersebut, tidaklah terlalu berlebihan bila beliau mendapat predikat sebagai Pahlawan Bangsa. Akhirnya, reputasi karya yang ditunjukkan oleh prestasi artistiknya, membuat Raden Saleh dikenang dengan rasa bangga.

 

BASOEKI ABDULLAH

Basoeki Abdullah (lahir di Surakarta, Jawa Tengah, 25 Januari 1915 – meninggal 5 November 1993 pada umur 78 tahun) adalah salah seorang maestro pelukis Indonesia.Ia dikenal sebagai pelukis aliran realis dan naturalis.

 

Lukisan “Kakak dan Adik” karya Basoeki Abdullah (1978). Kini disimpan di Galeri Nasional Indonesia, Jakarta.

 

Pada masa Pemerintahan Jepang, Basoeki Abdullah bergabung dalam Gerakan Poetra atau Pusat Tenaga Rakyat yang dibentuk pada tanggal 19 Maret 1943. Di dalam Gerakan Poetra ini Basoeki Abdullah mendapat tugas mengajar seni lukis. Murid-muridnya antara lain Kusnadi (pelukis dan kritikus seni rupa Indonesia) dan Zaini (pelukis impresionisme). Selain organisasi Poetra, Basoeki Abdullah juga aktif dalam Keimin Bunka Sidhosjo (sebuah Pusat Kebudayaan milik pemerintah Jepang) bersama-sama Affandi, S.Sudjoyono, Otto Djaya dan Basoeki Resobawo.

 

 

AFFANDI

 

 

 

Affandi dikenal sebagai seorang pelukis yang menganut aliran ekspresionisme atau abstrak. Sehingga seringkali lukisannya sangat sulit dimengerti oleh orang lain terutama oleh orang yang awam tentang dunia seni lukis jika tanpa penjelasannya. Namun bagi pecinta lukisan hal demikianlah yang menambah daya tariknya.

 

 

 

 

Kopi dari lukisan diri yang dibuat oleh pelukis Affandi sendiri

 

SENI RUPA KONTEMPORER

Antara modern dan kontemporer secara umum tidak dapat dipilah berdasarkan waktu, hal ini mengakibatkan tidak jelasnya pemisah antara kedua istilah tersebut. Istilah modern dan kontemporer dalam konteks seni rupa dijelaskan oleh Kramer dalam Dharsono sebagai berikut:

Pengertian “kontemporer” dibandingkan dengan istilah modern hanya sekedar sebagai sekat munculnya perkembangan seni rupa sekitar tahun 70-an dengan menempatkan seniman-seniman Amerika seperti David Smith dan Jackson Pollock sebagai tanda peralihan (Dharsono, 2004: 223).

Pengertian kontemporer dalam bidang arsitektur memiliki pengertian lain, hal ini diungkapkan oleh Kultermann seorang pemikir asal Jerman, “berdasarkan teori Udo pengertian kontemporer dekat dengan paham post-modern… menjelang 1970. Paham baru ini menentang kerasionalan paham modern yang dingin dan berpihak  pada simbolisme instink” (Dharsono, 2004: 223). Dalam istilah seni pengertian ini ditafsirkan lebih lajut oleh Douglas Davis kontemporer sebagai kembalinya upaya mencari dan mengangkat nilai-nilai budaya dan kemasyarakatan atau dalam istilah seni kembali ke konteks.

Seperti telah kita ketahui, seni kontemporer dalam bahasa Indonesia padanannya adalah “seni masa kini” atau juga “seni mutakhir”. Dalam khazanah seni modern yang telah berusia ratusan tahun, kehadiran seni kontemporer cukup rumit dan menimbulkan kontroversi yang berkepanjangan.

Istilah seni kontemporer pada hemat saya justru banyak menimbulkan kebingungan. Istilah seni kontemporer dalam arti seni masa kini sepanjang yang telah saya selusuri, sudah muncul sejak tahun 50-an. Pada waktu itu, karya seni masa kini hanya menyangkut nama-nama Picasso, Matisse, Braque dan lain-lain yang tidak bisa disebut satu persatu apakah tidak mengherankan jika pada tahun 1996 kita harapkan kepada bentuk seni yang sama sekali berbeda dengan tokoh-tokoh yang berbeda pula, namanya masih tetap sama yaitu seni kontemporer apa sebenarnya yang mempertautkan seni kontemporer tahun 50-an yang diwakili Picasso dan kawan-kawannya dengan seni kontemporer di tahun 1996 yang diwakili Pop art, Happening art dan seni instalasi, dan sebagainya saya rasa, inilah yang membingungkan dengan memakai istilah seni kontemporer karena setiap ungkapan seni 10, 20, 50, seratus tahun yang lalu atau yang akan datang, pada zamannya yang bersangkutan tetap merupakan seni kontemporer. Seperti juga waktu yang akan datang dan pergi, juga ungkapan seni dari waktu ke waktu yang akan dan pergi masing-masing mempunyai  bentuk, sifat dan kecenderungan  masing-masing yang saling berbeda satu sama lain,  bahkan sering tidak ada kaitan dan kebersamaan titik tolaknya. Periode berikutnya adalah pendobrakan yang lengkap terhadap asas-asas seni rupa tradisi Barat. Bahkan, akhirnya pendobrakan ini semakin beraneka ragam. Dipengaruhi oleh semangat individualisme dengan jumlah pelukis yang semakin banyak maka seni kontemporer ini semakin dipadati oleh seni individual di mana setiap seniman berusaha untuk saling berbeda satu sama lain (Popo Iskandar, 2000:30).

Ditinjau dari sudut ini seni kontemporer bukanlah konsep tetap. Seni kontemporer adalah dimensi waktu yang terus bergulir  mengikuti perkembangan masyarakat dengan zamannya.

Kiranya hanya satu indikasi yang bisa dijadikan titik terang istilah seni kontemporer, yakni lahir dan berkembang dalam khazanah dan ruang lingkup seni modern. Hal ini di pertegas dalam buku AWAS! Recent art from Indonesia: Seni rupa kontemporer muncul setelah seni rupa modern.

…”berlangsungnya perayaan ‘Boom seni lukis’ di akhir tahun 80-an dan awal akhir 90-an…seniman bergerak cepat menembus, melintas batas-batas tradisional negara yang membatasi identitasnya. Kelangsungan seni rupa kontemporer…tidak lagi mengusung semangat hebat, pemberontakan dan penyangkalan seperti pendahulunya di tahun 70-an (seni modern) tetapi melangsungkan negosiasi  dengan berbagai senimanan baru, perubahan-perubahan yang serba cepat, peluang dan tentunya juga gemerlapnya pasar (Rizki A Zaelani, 1999:92).

Untuk melengkapi batasan antara modern dan kontemporer dalam seni rupa, penulis (Senin, 17 Januari 2005) berhasil menghubungi Setiawan Sabana (pendidik, perupa, dekan FSRD ITB). Ia mengungkapkan, sesuai dengan hasil penelitiannya mengenai “Seni Rupa Kontemporer Asia Tenggara” yang dilakukannya selama 4 tahun, bahwa yang membedakan antara seni rupa modern dan kontemporer sebagai berikut:

Seni Rupa Modern     

  • memutuskan rantai dengan tradisi masa lalu, pada masa ini tradisi tidak menjadi perhatian yang signifikan dan itu dianggap sebagai seseuatu yang tidak perlu diotak-atik lagi tapi cukup dalam musium saja,
  • adanya high art dan low art ( kesenian dianggap adiluhung)
  • tema-tema sosial cenderung ditolak, dan
  •  kurang memperhatikan budaya lokal.

 

Seni Rupa Kontemporer

  • tradisi dicoba untuk diangkat kembali misalnya tema lebih bebas dan media lebih bebas,
  • tema-tema sosial dan politik menjadi hal yang lumrah dalam tema berkarya seni,
  • baurnya karya seni adiluhung/high art dan low art,
  • masa seni rupa modern kesenian itu abadi maka masa kontemporer kesenian dianggap kesementaraan,
  • dulu ada istilah menara gading sekarang kesenian merakyat, jadi tidak lagi menjadi sesuatu yang perlu/harus bertahan, dan
  • budaya lokal mulai bahkan menjadi perhatian.

Selanjutnya ia menyimpulkannya bahwa fenomena seni rupa kontemporer Indonesia merupakan suatu refleksi, pencerminan evaluasi kembali, sikap evaluatif dan pencarian akan potensi-potensi kultural yang baru di negeri ini  dan  merupakan bentuk kesadaran baru dalam era global.

 

yang ngasih comment di do'ain bahagia DUNIA dan AKHIRAT... :D

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s